Pengertian Sianida

Sianida adalah senyawa kimia dari kelompok Siano, yang terdiri dari 3 buah atom karbon yang berikatan dengan nitrogen (C=N), dan dikombinasi dengan unsur-unsur lain seperti kalium atau hidrogen. Secara spesifik, sianida adalah anion CN . Senyawa ini ada dalam bentuk gas, liquid (cairan) dan solid (garam). Kata “sianida” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “biru” yang mengacu pada hidrogen sianida yang disebut Blausäure (blue acid) di Jerman (Cahyawati, 2017).

Sianida adalah kelompok senyawa yang mengandung gugus siano (-CN=) yang terdapat di alam dalam bentuk berbeda-beda (Kjeldsen 1999, Luque-Almagro et al. 2011). Senyawa sianida di alam dapat diklasifikasikan sebagai sianida bebas, sianida sederhana, kompleks sianida dan senyawa turunan sianida (Smith and Mudder 1991).

Sianida merupakan bahan beracun yang dapat menimbulkan berbagai dampak berbahaya. Salah satunya yaitu membahayakan jantung dan otak karena suplai oksigen terhambat bila terpapar oleh sianida. Manusia yang meminum air mengandung sianida maka dapat mengalami keracunan. Hal ini karena sianida yang diabsorbsi oleh lambung akan menghambat terbentuknya enzim pernapasan yaitu cytochrome oxidase. Terhambatnya pembentukan enzim ini akan menyebabkan anoxia (gangguan metabolisme oksigen) pada sel–sel tubuh. Apabila dosis cukup besar (0,54 mg HCN/kg berat badan) akan mengakibatkan kematian (Tsani, 2018).

Senyawa asam sianida memiliki sifat larut pada air, dan sedikit larut dalam etanol. Tanaman yang mengandung sianida bersifat racun karena memiliki ikatan rangkap 3 [:C≡N:] yang terionisasi di dalam air. Tidak semua senyawa sianida bersifat racun. Senyawa-senyawa yang bersifat racun adalah senyawa-senyawa yang bisa melepaskan ion sianida bebas dari senyawanya.

HCN pada Singkong

Kulit singkong memiliki kandungan asam sianida yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Balai Besar Industri Hasil Pertanian Bogor, singkong juga mengandung unsur yang tidak dikehendaki dan bersifat racun, yaitu sianida (HCN). Kandungan HCN di dalam singkong dapat mempengaruhi cita rasa dari singkong tersebut (Suprapti, 2002). Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada penelitian ini peneliti meneliti kandungan asam sianida pada kulit singkong. Dari hasil uji laboratorium, rasa singkong yang diperoleh tidak dapat dilihat dari kadar sianidanya karena yang objek penelitiannya bukan buah/daging singkong melainkan kulitnya. Senyawa HCN merupakan suatu jenis racun yang bekerja dengan sangat cepat. Kematian dapat ditimbulkan dalam beberapa menit apabila HCN ditelan dalam keadaan lambung kosong. HCN dalam bentuk cair dapat diserap oleh kulit dan mukosa. Dosis letal dari HCN pada manusia ialah sekitar 60- 90 mg (Muhlisin, 2014).

Proses pengolahan seperti pengeringan, pemutihan, dan perebusan dapat mengurangi jumlah senyawa sianida pada singkong. Singkong sebenarnya mengandung enzim rhodanase yang dapat mendetoksifikasi HCN dengan membentuk thiocyanate. Meskipun demikian, detoksifikasi alamiah ini tidak dapat mengeliminasi HCN secara efektif (Arisman, 2008). Enzim rhodanase akan mengkatalisis perpindahan sulfur dari senyawa tiosulfat ke sianida yang akan membentuk senyawa thiocyanate yang tidak beracun (Cipollone, 2008). Senyawa HCN mudah menguap pada proses perebusan, pengukusan, dan proses memasak lainnya. HCN bersifat mudah menguap pada suhu kamar, mempunyai bau khas HCN, dan mudah berdifusi (Putra, 2009).

Fermentasi mampu memecah senyawa linamarin menjadi sianida bebas akibat aktivitas enzim linamarase dari umbi ubi kayu (Yeoh, 1998). Reduksi HCN ini dengan metode fermentasi terjadi karena meningkatnya konsentrasi mikroorganisme selama fermentasi tetap, yang mempercepat kerusakan glikosida sianogenik, (Rusulu, 2012). Semakin lama proses perendaman maka makin tinggi persentase reduksi kadar HCN.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2008. Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Edisi Ke-2. EGC, Jakarta.

Cahyawati, Putu Nita., Izal Zahran., M. Ikhsan Jufri., & Noviana. 2017. Keracunan Akut Sianida. Jurnal Lingkungan & Pembangunan. 1 (1) : 80-87.

Cipollone, R., Ascenzi, P., Tomao, P., Imperi, F., dan Visca, P. 2008. Enzymatic detoxification of cyanide : clues from Pseudomonas aeruginosa Rhodanase. J Mol Microbiol Biotechnol. 15 (2-3) : 199-211.

Kjeldsen, P. 1999. Behaviour of cyanides in soil and groundwater: A review. Water, air and soil pollution. 115 (1-4) : 279-307.

Luque-Almagro, V.M., Blasco, R., Martinez-Luque, M., Moreno-Vivian, C., Castillo, F. & Roldan, M.D. 2011. Bacterial cyanide degradation is under review: Pseudomonas pseudoalcaligenes CECT5344, a case of an alkaliphilic cyanotroph. Biochemical Society Transactions. 39 (1) : 269-274.

Muhlisin, A. 2014. Keracunan Singkong. http://mediskus.com/penyakit/keracunansingkong.html. Diakses 03 Februari 2021 Pukul 14.49 .

Putra, I Nengah Kencana. 2009. Efektifitas Berbagai Cara Pemasakan terhadap Penurunan Kandungan Asam Sianida Berbagai Jenis Rebung Bambu. Agrotekno. 15 : 40 – 42.

Rasulu, Hamidin. Yuwono, Sudarminto S., Kusnadi, Joni. 2012. Karakteristik Tepung Ubi Kayu Terfermentasi sebagai Bahan Pembuatan Sagukasbi. Jurnal Teknologi Pertanian. 13 (1) : 1-7

Suprapti, M. L. 2002. Tepung Kasava: Pembuatan dan Pemanfaatannya. Kanisius, Yogyakarta.

Tsani, Iinaas Adzkiya., & Sulistiyani, Budiyono. 2018. Analisis Risiko Pajanan Sianida Pada Masyarakat Desa Ngemplak Kidul Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 6 (6) : 159-165.

Yeoh, H. H., Tatsuma, T. and Oyama, N. 1998. Monitoring the cyanogenic potential of cassava: the trend towards biosensor development. Trend in Analytical Chemistry. 17 : 234-240.

 

Rumah Mocaf Indonesia

See all author post

Leave a Comment

Your email address will not be published.

0
X