Tepung Singkong

Regenerasi Petani Butuh Campur Tangan dari Pemerintah- AKURAT.co

 negaraAKURAT.CO, Local Heroes Network (LHN) kembali menggelar webinar dengan tema “Regenerasi Petani Muda”. Webinar ini menghadirkan pembicara antara lain Anggota DPD RI asal Provinsi Lampung Ahmad Bastian SY, Dosen Universitas Amal Ilmiah Wamena, Bhaskara Anggarda, Praktisi pertanian dan pendiri rumah Mocaf Riza Azyumarridha Azra dan Peneliti dari Sajogyo Institute, Ahmad Jaetuloh.

 

Ahmad Bastian sebagai angota DPD RI menyampaikan bahwa setiap tahun angkatan kerja lebih memilih melakukan urbanisasi sehingga mereka meninggalkan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan sebagai suatu profesi pilihan.

“Tidak salah jika rektor IPB memprediksi 10-15 tahun kedepan kita akan mengalami krisis pekerja pertanian,” ungkapnya.

“Orang tidak lagi melihat sektor pertanian sebagai sektor yang menjanjikan atau bisa dijadikan sandaran hidup untuk mencari nafkah,” tambahnya

Apabila sektor pertanian tidak jelas kebijakan dalam mengelolanya, maka Indonesia akan menjadi negara yang mati dilumbung pangannnya sendiri.

“Pemerintah perlu menjadikan sektor pertanian sebagai proyek strategis nasional” usulnya.

Regenerasi dan Kolaborasi Petani dan Pemuda

Tepung Singkong
Rumah Mocaf Indonesia bersama petani singkong.

Riza Azyumardi Azra menilai perlu ada regenerasi petani dan kolaborasi antara petani dan anak muda yang mau terjun di pertanian.

“Singkong ketika diolah serius oleh anak muda maka yang dulunya singkong satu kilo RP. 200, sekarang sudah menjadi Rp.1500,” pungkasnya

Menurut, Ahmad Jaetuloh mengkritik negara Indonesia yang dinilai lebih sering melihat pemuda sebagai objek kebijakan dan objek dalam pembangunan negara.

“Harusnya pemuda itu sebagai subjek yaitu political force yang punya daya inovasi dan daya mobilitas tinggi,” katanya.

Selain itu, dia mengsusulkan agar pelaksanaan reforma agraria menjadi isu penting bagi anak muda karena ini menjadi satu kesempatan para pemuda untuk mengambil ruang-ruang kelola rakyat baik itu aset atau akses pertanian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *