Mengenal Riza Azyumarridha Azra, Founder Rumah Mocaf Indonesia, Singkong yang Dihargai Murah Kini Diekspor

Dalam dunia pertanian di Banjarnegara, nama Riza Azyumarridha Azra dahulu mungkin masih asing. Namun saat ini, pemuda kelahiran Banjarnegara 24 Maret 1991 ini populer karena sudah malang melintang dalam dunia  singkong atau  ubi kayu.

Riza, begitu Riza Azyumarridha Azra biasa disapa, kini dikenal masyarakat sebagai pendiri rumah mocaf Banjarnegara. Riza sukses mengangkat derajat petani singkong yang ada di Banjarnegara. Bahkan saat ini produk olahan singkong sudah menembus pasar internaisonal.

Riza yang merupakan aktivis Pemuda Muhammadiyah Banjarnegara ini, awalnya tidak pernah terpikir untuk bergelut dalam dunia bisnis pertanian. Khususnya singkong.

Ide mengolah singkong menjadi mocaf, bermula saat dirinya aktif dalam sekolah inspirasi pedalaman Banjarnegara.

Riza memang aktif dalam urusan sosial sejak masih duduk di bangku SMAN 1 Banjarnegara. Jiwa sosial ini berlanjut hingga dia menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Dalam kegatan sosial bersama Sekolah Inspirasi Pedalaman, Riza sering berkunjung ke sejumlah pelosok Banjarnegara untuk memberi inspirasi pada anak-anak yang putus sekolah agar mau melanjutkan sekolahnya.

Bahkan, dia juga sempat membuka rumah literasi atau taman baca di rumahnya, yang ada di Kompleks Kauman Kutabanjarnegara, Kecamatan Banjarnegara.

Ide dan pemikiran untuk mengolah singkong menjadi tepung mocaf, bermula saat dia berkunjung dan melakukan kegiatan sosial di desa.

Saat itu ada seorang petani singkong yang menangis di hadapannya. Petani tersebut mengadu jika singkong yang dihasilkan para petani pada waktu itu hanya dihargai Rp 200 per kilogram. Hal inilah yang membuat singkong-singkong di sana dibiarkan begitu saja di lahan petani.

“Kejadian ini tidak hanya di satu tempat, melainkan banyak daerah di Banjarnegara yang mengalami hal serupa. Padahal Banjarnegara merupakan satu sentra singkong di Jawa Tengah,” katanya.

Melihat kenyataan tersebut, Riza yang merupakan lulusan Teknik Elektro UGM ini tergerak hatinya untuk bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para petani singkong. Bersama dengan para aktivis sosial lainnya, dia mencoba melakukan konsultasi dengan para ahli singkong.

“Hasil konsultasi yang kami lakukan, dari beberapa pakar menyarankan agar singkong dari para petani diolah menjadi mocaf. Mocaf merupakan kepanjangan dari Modified Cassava Flour atau tepung singkong yang termodifikasi. Tepung mocaf memiliki karakteristik yang hampir sama dengan tepung terigu,” katanya.

Mendapat jawaban itu, Riza dan kawan-kawan seakan mendapat pencerahan. Dia kemudian belajar tentang tepung mocaf.

Tak cukup sampai di situ, dia juga melakukan sejumlah riset dan menemukan bahwa Indonesia merupakan penghasil singkong terbesar nomor dua di dunia setelah Brazil. Namun di sisi lain, Indonesia juga merupakan pengimpor tepung terigu terbesar di dunia.

“Ini menjadi sangat ironis. Negara dengan penghasil singkong terbesar di dunia, justru menjadi pegimpor tepung terbesar di dunia. Kami juga melihat di negeri ini sangat banyak petani singkong, namun hidup mereka justru di bawah kesejahteraan normal,” katanya.

Riza juga mengatakan, jika tepung terigu menjadi kebutuhan masyarakat semua kalangan. Termasuk untuk menjadi bahan olahan makanan tradisional hingga modern. Lebih ironis lagi, bahan tepung tersebut harus impor.

Tekad untuk mengubah nasib para petani singkong ini semakin bulat. Bahkan dia bersama rekan-rekan sejawat terus bangkit dan membuat rumah mocaf.

Tak hanya itu, dia juga masih sering turun ke desa untuk mendampingi para petani singkong untuk mengolah singkong menjadi tepung mocaf.

Riza mengakui, mengalami banyak kendala. Mulai dari proses hingga pemasaran. Produk olahan singkong ini sulit diterima pasar lokal saat itu. Apalagi saat itu gerakan mengolah singkong menjadi tepung mocaf murni untuk pemberdayaan masyarakat.

“Dari masalah ini kami belajar. Sehingga akhirnya melangkah dengan membuat rumah besar untuk mengangkat petani singkong bernama Rumah Mocaf Indonesia,” katanya.

Dalam pengelolaanya, Rumah Mocaf terbagi menjadi tiga kelompok. Petani singkong, ibu-ibu perajin mocaf, dan generasi muda.

Pada kelompok pertama, sejumlah petani yang selalu merugi saat panen mulai diberdayakan. Mulai dari mengolah lahan, pupuk, agar singkong yang ditanam berkualitas.

Dikatakan, selain itu rumah mocaf juga memberdayakan kaum ibu untuk menambah penghasilan dengan bekerja sebagai tenaga lepas mengolah singkong menjadi tepung mocaf.

“Mulai dari mengupas kulit, melakukan proses fermentasi hingga singkong menjadi tepung mocaf,” katanya.

Sedangkan generasi muda dikaryakan untuk melakukan pengemasan produk secara kreatif, serta melakukan kerjasama dengan instansi yang ada dalam pemasaran prdouk mocaf hingga bisa diterima masyarakat luas.

Untuk menentukan harga pokok produksi, Riza mengajak tiga komponen itu duduk bersama, dari itu harga singkong yang sebelumnya hanya Rp 200 per kilogram naik menjadi Rp 1.500 per kilogram.

Cara ini agar semua komponen satu sama lain saling mendukung dan terbuka. Bahkan petani singkong tahu harga produk mocaf yang akan dijual ke pasaran.

“Kami mengistilahkan ini dengan sebutan Demokrasi Ekonomi,” katanya.

Dengan metode ini, para petani di daerah tidak lagi mudah dipermainkan oleh tengkulak nakal. Termasuk memberikan ruang pekerjaan dari rumah bagi kaum ibu. Selain itu, memancing para pemuda untuk tidak ragu dan mau terjun sebagai petani muda yang modern.

“Dengan pengolahan yang baik, hasil pertanian seperti singkong yang bagi kebanyakan orang sebagai makanan orang pinggiran bisa naik kelas dengan nilai jual yang tinggi. Bahkan saat ini tepung mocaf yang diproduksi oleh Rumah Mocaf sudah menembus pasar internasional,” terangnya.

Menurut Riza, saat ini ekspor tepung mocaf yang diproduksi oleh Rumah Mocaf sudah menembus ke beberapa negara. Mulai dari Malaysia, Singapura, Dubai, Oman, Inggris, dan terakhir Turki.

Riza juga menjelaskan, saat ini permintaan produk tepung singkong sedang meningkat di seluruh dunia.

“Harapan kami ke depannya, makin banyak teman-teman yang memproduksi tepung mocaf dan masyarakat juga mengonsumsinya. Untuk memenuhi kebutuhan permintaan, kami memiliki serapan singkong yang kami dapat dari sekitar Banjarnegara, khususnya di Kecamatan Punggelan. Singkongnya kami olah menjadi tepung mocaf, sehingga singkong ini bisa bernilai jual lebih tinggi,” katanya.

Dia mengatakan, ekspor tepung mocaf sebenarnya sudah dilakukan sejak 2020. Dan yang terakhir untuk pengiriman perdana ke Turki tahun ini, sebanyak 45 ton tepung mocaf.

“Sebelumnya kami juga ekspor ke Oman sebanyak 20 ton, Turki sebanyak 45 ton dengan nilai nominal mencapai Rp 2 miliar lebih,” katanya.

sumber : radarbanyumas.disway.id

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *