Tepung Singkong

Menaikkan Martabat Singkong di Rumah Mocaf – katadesa.id

Singkong, Tepung Mocaf
Rumah Mocaf Indonesia

Riza dan teman-teman pemuda Kabupaten Banjarnegara, punya kegiatan rutin. Setiap Sabtu dan Minggu, Riza yang tergabung dalam relawan Sekolah Inspirasi Pedalaman blusukan ke desa-desa Banjarnegara, Jawa Tengah. Mereka menyambangi anak-anak desa itu dan memotivasi serta memberi inspirasi anak-anak pedalaman itu agar mau melanjutkan sekolah hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka ingin anak-anak pedalaman itu tetap bersemangat menempuh pendidikan walau di daerah pendalaman.

Karena bolak-balik ke pedalaman, warga sosok Riza dan kelompoknya sangat dikenal warga desa. Hingga suatu ketika, pada 2014, Riza didatangi beberapa petani. Kepada Riza, mereka mengeluh dan menangis. Mereka mengeluhkan harga singkong yang anjlok. “Singkong dihargai Rp 200/kilo,” ujar pemilik nama lengkap Riza Azyumarridha Azra (28 tahun).

Ternyata rendahnya harga singkong itu tak hanya di satu titik, melainkan hampir di seluruh Banjarnegara. Riza yang tak tahu menahu tentang singkong sempat bingung dengan keluhan itu. Namun ia tetap mendengar keluh kesah petani itu. Riza pun tergerak untuk membantu para petani itu. Apalagi Banjarnegara dikenal sebagai daerah penghasil singkong terbesar kedua di Jawa Tengah.

Sepulang dari pedalaman, ia berdiskusi dengan teman-temannya untuk memberi solusi ke para petani itu. “Saya ingin para petani ini bisa hidup sejahtera,” ujar lulusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Ia lalu menghubungi beberapa praktisi dan teman-temannya yang menjadi akademisi untuk mencari solusi bagi petani itu. Dari hasil diskusi dan konsultasinya itu, mereka menyarankan agar Riza membuat tepung singkong yang dimodifikasi atau Mocaf (modified cassava flour).

“Mereka bilang ini pangan masa depan,” kata pendiri dan CEO Rumah Mocaf ini.

Dari saran teman-temannya itu, Riza akhirnya belajar cara mengolah singkong menjadi tepung. Sembari belajar, ia mencari data tentang produksi dan kebutuhan akan singkong. Dari data yang ditemukan, Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbesar kedua setelah Brasil. Dari situ juga ada informasi bahwa singkong ini memang bisa diolah menjadi Mocaf.

“Mocaf ini hampir sama dengan tepung terigu,” ujar Duta petani milenial Kementerian Pertanian seperti ditayangkan kanal YouTube Kementerian Pertanian RI.

Mengangkat Martabat Singkong

Dari data Kementerian Perindustrian, kata Riza, meski menjadi negara penghasil singkong terbesar kedua di dunia, Indonesia juga menjadi negara pengimpor terigu pertama di dunia. “Ini ironis sekali,” katanya.

Padahal singkong ini bisa tumbuh di lahan-lahan yang ada di Sabang hingga Merauke. Akibat tak bisa memanfaatkan Singkong, petaninya juga tidak sejahtera. “Dari keprihatinan itu, akhirnya kami bertekad untuk mengangkat martabat singkong dan petani singkong,” katanya.

Setelah bisa mengolah Mocaf, Reza dan teman-temannya mengajarkan cara pengolahan Mocaf itu kepada para petani. Tapi masalah muncul. Setelah para petani bisa mengolah menjadi Mocaf, para petani itu tak bisa menjual. Maklum, produk ini memang relatif baru dan belum banyak dikenal masyarakat. Dibutuhkan edukasi dan pengenalan terus-menerus.

Membagi Tiga Klaster

“Akhirnya kami memutuskan untuk membuat rumah besar yang kami beri nama rumah mocaf,” ujar Riza.

Di rumah mocaf ini, Riza membagi tiga klaster. Klaster petani, klaster ibu-ibu pengerajin mocaf, dan anak-anak muda.

Untuk klaster petani, rumah mocaf punya kewajiban melakukan pendampingan agar petani bisa memaksimalkan produktivitas lahan, melakukan integrated farming, dan cara menggunakan pupuk organik.

“Kalau dulu 1 hektar menghasilkan 10 ton, sekarang sudah bisa 30 ton. Kami membelinya minimal Rp 1.500/kg,” kata Riza.

Sementara klaster ibu-ibu rumah tangga diberdayakan untuk mengupas, mencuci, dan memotong hingga perendaman. Ibu-ibu rumah tangga yang semula tak punya pekerjaan kini punya penghasilan.

Sedangkan klaster anak-anak muda bertugas mendampingi, quality control, perizinan, sertifikasi, dan pengemasan. Pelibatan anak-anak muda ini, menurut Riza, sangat penting karena mereka nanti akan menjadi penerus pangan. Selain itu, dengan pelibatan anak-anak muda ini, singkong yang dulu dipandang sebelah mata kini sudah mulai diperhitungkan.

“Dalam menentukan harga, ketiga klaster ini kami ajak rembug bersama. Ada demokratisasi ekonomi,” ujar Riza.

Dari singkong ini, rumah mocaf sudah bisa memproduksi beberapa turunannya seperti mie cassa, tepung mocaf, moca chips, kue semprong, dan produk lainnya.

Riza berharap, dari produk-produk yang dihasilkan itu, singkong bisa menjadi pangan alternatif dan gerakan kedaulatan pangan lokal. “Kami berharap Indonesia benar-benar bisa berdaulat pangan,” ujar Riza.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *