Memerdekakan dan Angkat Derajat Petani Singkong Ala Rumah Mocaf

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarnegara – – Upaya petani pangan lokal untuk bangkit kini kian nyata. Seperti yang dilakukan oleh Riza Azyumarridha Azra melalui Rumah Mocaf yang berhasil mengangkat derajat dan merdekakan petani singkong di Banjarnegara. 

“Kita menyebut ekosistem Rumah Mocaf sebagai Kerja Kolaborasi Demokratisasi Ekonomi,” ungkap pemilik Rumah Mocaf, Riza Azyumarridha Azra.

Bersama Non Government Organization (NGO), Pemerintah, Akademisi, Media dan lainnya, Rumah Mocaf berusaha untuk mengangkat derajat dan memerdekakan petani singkong dengan usaha Hulu hilir.

Rumah Mocaf sendiri berdiri di Kutabanjarnegara, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kabupaten Banjarnegara tanah kelahirannya  merupakan penghasil singkong terbesar kedua di Jawa Tengah. Namun masyarakatnya belum mendapatkan harga yang pantas dari usaha budidaya singkong.

Dengan adanya Rumah Mocaf ini, Riza membuat bisnis yang terintegrasi dalam bentuk klaster. Kluster pertama, petani sebagai produsen bahan baku. Pendampingan dan edukasi yang diberikan untuk petani adalah seputar produktivitas,  literasi finance, integrated farming  untuk menentukan HPP singkong.

Klaster kedua memberdayakan wanita, ibu rumah tangga mengolah singkong menjadi chips mocaf, sehingga memberikan penghasilan baru bagi masyarakat.

Sementara Kluster ketiga yaitu memberdayakan anak muda yang bertugas melakukan quality control, branding, packaging, edukasi dan pendampingan kepada petani serta pengrajin. Karena target market Rumah Mocaf, kualitas menjadi yang utama.

Tugas lain cluster ketiga ini adalah membuat inovasi produk turunan, seperti mie Mocaf, kue pie Mocaf, dan produk lainnya. “Kami memiliki resto Rumah Mocaf tempat anak muda nongkrong. Menunya kekinian seperti fried chiken, mie ayam dan semua  terbuat dari mocaf, ini sebagai bentuk edukasi kami ke mereka,” ungkapnya.

Berdampak Positif

Upaya Riza ini ternyata berdampak positif bagi Petani singkong. “Dari harga 1kg singkong yang hanya Rp 200 dan tepung mocaf yang hanya dihargai Rp 3 ribu, kini bisa dihargai minimal Rp 1500 per kilogram untuk singkong dan Rp 10 ribu per kilogram untuk Mocaf,” jelasnya.

Rumah Mocaf membantu petani untuk melakukan integrated Farming dengan ternak kambing dan sapi.” Dengan memanfaatkan kulit singkong diolah menjadi pakan dan kotoran ternak untuk pupuk,  lahan menjadi lebih produktif dengan produksi tiga kali lipat dan menghasilkan singkong organik, yang terpercaya sehingga memiliki nilai jual yang tinggi,” tuturnya.

Alhasil, lahan 1 Hektar mampu menghasilkan 30 ton singkong yang organik. Padahal sebelumnya, 1 Hektar hanya 10 ton singkong dan non organik. Dengan adanya integrated farming, limbah pun menjadi terolah sehingga zero waste.

Dengan tingginya harga jual dan produktivitas, penghasilan petani meningkat 100 persen dan petani bisa menabung dengan benar. “Sebelumnya petani tidak bisa mengukur pendapatan mereka, bahkan cenderung merugi. Namun setelah mendapatkan literasi ekonomi, Petani semakin mengerti,” tambahnya.

Hasil pertanaman singkong produksi petani yang selama ini hanya untuk pasar domestik kini bisa menembus pasar internasional dengan tepung mocaf gluten free.

sumber : tabloidsinartani.com

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *