Tepung Mocaf

Membangun Kedaulatan Pangan dengan Mocaf – Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG — Setiap tahun Indonesia mengimpor gandum sangat tinggi, rata-rata di atas 10 juta ton. Kondisi itu ini menguras devisa cukup besar, mencapai Rp 26 triliun per tahun. Melalui diversifikasi produk, dengan memanfaatkan tepung Mocaf dari ubi kayu, ini akan bisa membantu menyediakan bahan baku untuk mensubstitusi tepung gandum yang selama ini kita impor.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian, Bustanul Arifin,  saat membuka pelatihan “Bertani On Cloud” belum lama ini.

 

Pusat Pelatihan Pertanian Menggagas Konsep Pelatihan Virtual

“Bertani On Cloud” merupakan konsep pelatihan virtual yang digagas oleh Pusat Pelatihan Pertanian, Kementerian Pertanian selama pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan untuk menyiasati adanya pembatasan sosial yang sedang digalakan untuk memutus rantai wabah Covid-19. Pelatihan yang sudah memasuki Volume 10 ini melibatkan Balai Pelatihan Lampung dengan mengangkat tema “Produksi Mocaf Skala Rumah Tangga”.

Mocaf (Modified Cassava Flour) merupakan sebutan vamiliar untuk tepung ubi kayu yang telah termodifikasi melalui fermentasi. Proses ini melibatkan starter mikroba tertentu yang bermanfaat untuk pangan. Dalam proses fermentasi tersebut mikroba memproduksi enzim dan asam-asam organik. Selanjutnya akan mengubah struktur pati bisa meghasilkan tepung dengan aroma dan tekstur yang sangat baik. Selain itu bisa digunakan untuk bahan baku aneka makanan, seperti mie, biskuit, brownis, roti tawar, dan lain sebagainya.

 

Pelatihan Pembuatan Mocaf Melalui Video Conference

Pendiri Rumah Mocaf Indonesia Riza Azyumarridha Azra bersama petani muda

Pelatihan melalui video conference ini pesertanya merupakan para petani, penyuluh pertanian, dinas pertanian dan masayarakat umum dari Sabang sampai Merauke. Acara pelatihan diawali dengan sambutan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian yang dipandu oleh Kepala Bidang Program dan Kerjasama Pelatihan Ramadani Saputra. Pelatihan ini menghadirkan pemateri Widyaiswara Balai Pelatihan Pertaian Lampung yang membidangi Pasca Panen dan pengolahan Hasil Pertananian. Materi disampaikan oleh Ahmad Suryanto dan dipandu oleh Host Mika Margareta.

Pelatihan ini semakin lengkap dengan menghadirkan pembicara tamu yaitu praktrisi yang telah sukses di bisnis Mocaf, Riza Azyumarridha Azra, dari Banjarnegara Jawa Tengah. Riza Azyumarridha Azra memberi testimoni sukses berbisnis Mocaf hingga pasar eksport.

Mengawali sesi materinya, salah satu pemateri, Ahmad Suryanto mengatakan bahwa pelatihan ini memang digagas sebagai upaya menawarkan suatu kegiatan produktif. Pelatihan ini bisa dilakukan pada skala rumah tangga khususnya di pedesaan guna menyediakan pangan. Selain itu bisa memberi tambahan pendapatan meskipun dalam situasi pembatasan sosial di masa pandemi covid-19.

“Apalagi saat ini harga singkong atau ubi kayu sedang anjlok. Dengan mengolah menjadi tepung Mocaf diharapkan akan  bisa menjadi jalan bagi petani untuk menghindar dari kerugian yang lebih besar,” lanjut Ahmad.

 

Mocaf Memiliki Banyak Keunggulan Diantaranya Free Gluten

Menurut Ahmad Suryanto, Mocaf ini banyak sekali keunggulannya, di antaranya free gluten. Gluten merupakan protein dalam terigu yang bisa menjadi alergen sehingga sebagian orang menghidarinya. Yang kedua, cocok untuk diet diabetes karena indeks glikemik atau perubahan karbohidrat menjadi gula darahnya rendah.

Ketiga, kandungan seratnya tinggi sehingga bisa mencegah kanker kolon. Kandungan mieralnya juga tinggi, bahkan di dalamnya ada kandungan vitamin C sebagai dampak proses fermentasi. Jadi Mocaf adalah bahan pangan sehat”, jelas Ahmad.

 

Masyarakat Sangat Antusias Mengikuti Pelatihan Pengolahan Mocaf

Dalam kesempatan sesi materi ini juga ditampilkan praktik mengolah singkong menjadi Mocaf dengan proses dan peralatan yang sederhana. Meski hanya bisa betatap muka secara virtual, peserta mengikuti pelatihan dengan sangat antusias. Hal ini terbukti dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan baik melalui chat maupun pertanyaan langsung di sesi diskusi.

Beberapa pertanyaan di antaranya berasal dari peserta asal Kepualaun Selayar Sulawesi Selatan, Madura dan Gresik Jawa Timur. Untuk menambah antusiame peserta, di sela-sela materi Host menyelingi dengan kuiz berhadiah. Acara sesi pagi yang berlangsung sekitar satu jam tersebut ditutup dengan sambutan Kepala Balai Pelatihan Lampung, Dadan Sunarsa.

Dalam sambutannya, Dadan menyatakan kegembiraanya atas sambutan masyarakat dalam terhadap pelatihan virtual kali ini. “Alhamdulillah, ini masyarakat antusias sekali. Terbukti dengan banyaknya  peserta, baik dari Sumatera, Jawa, maupun dari wilayah lain”, ungkapnya.

 

Indonesia Penghasil Singkong Yang Sangat Besar

Lebih lanjut, Dadan menyatakan bahwa Indonesia adalah penghasil singkong yang sangat besar, khususnya Lampung merupakan yang terbesar di Indonesia. “Kita tahu bahwa selama ini singkong masih dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, dengan e-learning pengolahan singkong menjadi tepung Mocaf ini kita berharap akan bisa meningkatkan harkat singkong sehingga bisa menjadi pangan lokal yang tidak kalah dengan terigu”. Jelas Dadan penuh semangat.

Ia berharap para penyuluh dan masyarakat pada umumnya membudayakan produk olahan pangan lokal. Hal ini tak lepas sebagai upaya kita untuk mengantisipasi kerawanan pangan yang mungkin terjadi. Terlebih di masa pandemi ini membutuhkan pangan yang bergizi. “Mocaf memiliki keunggulan dari sisi gizi yang baik untuk direkomendasikan sebagai pangan sehat selama pandemi Covid-19,” ajak Dadan kepada para peserta.

 

Mocaf Untuk Kedaulatan Pangan Indonesia

Untuk mengakomodir peserta yang belum berkesempatan ikut pada pagi hari, pelatihan ini diulang pada sesi siang. Yang unik pada sesi siang ini, salah satu peserta yang menjawab kuiz berasal dari warga negara Indonesia yang tinggal di Abudabi, Uni Emirat Arab.

Yang lebih menarik, di tengah diskusi dan tanya jawab, ada pernyataan heroik dari salah seorang peserta, Bapak Bajar, penyuluh pertanian asal banjarnegara. “Kalau zaman dulu para leluhur kita berjuang melawan penjajah dengan senjata dan bambu runcing, kita sekarang berjuang dengan Mocaf untuk kedaulatan pangan kita.”

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *