Singkong, Tepung Mocaf
Singkong, Tepung Mocaf
Rumah Mocaf Indonesia

Merdeka.com – Riza Azyumarridha Azra (28) pada awalnya tidak pernah berpikir untuk berbisnis singkong. Sebagai aktivis pemuda yang tergabung di dalam Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara, dulunya dia bersama teman-teman komunitasnya rutin berkunjung ke desa-desa pedalaman setiap akhir pekan. Kegiatan itu dilakukan untuk memberi inspirasi pada anak-anak yang putus sekolah agar mau melanjutkan sekolahnya.

Pada suatu hari, saat Riza sedang mengadakan kegiatan di sebuah desa, ada seorang petani singkong yang menangis di hadapannya dan teman-teman komunitasnya. Petani tersebut mengadu jika singkong yang dihasilkan para petani pada waktu itu hanya dihargai Rp200 per/kg. Hal inilah yang membuat singkong-singkong di sana dibiarkan membusuk di lahan-lahan.

Fenomena itu terjadi tak hanya di satu tempat, melainkan di banyak daerah yang tersebar di seluruh Kabupaten Banjarnegara. Padahal, kabupaten itu merupakan penghasil singkong terbesar kedua se-Jawa Tengah.

Melihat kenyataan tersebut, pemuda lulusan teknik elektro itu tergerak hatinya untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para petani singkong. Riza dan teman-temannya pun mencoba berkonsultasi dengan para pakar singkong untuk menemukan solusi dari masalah itu.

Lalu apa solusi yang diberikan para pakar kepada Riza dan kawan-kawan?

Dari hasil konsultasi itu, semua pakar yang ia temui menyarankan agar singkong dari para petani diolah menjadi Mocaf. Mocaf sendiri merupakan kepanjangan dari Modified Cassava Flour, atau tepung singkong yang termodifikasi. Tepung Mocaf ini memiliki karakteristik yang hampir sama dengan tepung terigu.

Dari situlah Riza dan kawan-kawan kemudian mulai belajar tentang Tepung Mocaf ini. Selain itu dari riset yang dilakukan, ia menemukan fakta bahwa Indonesia merupakan penghasil singkong terbesar nomor dua di dunia setelah Brazil. Namun di sisi lain, Indonesia juga merupakan pengimpor tepung terigu terbesar di dunia.

“Ini sangat ironis. Di satu sisi dari Sabang sampai Merauke ada singkong, tetapi banyak petani singkongnya yang hidup di bawah kesejahteraan normal, tapi di sisi lain Indonesia pengimpor terigu terbesar. Dan dari kalangan atas hingga ke bawah semuanya mengonsumsi terigu. Bahkan di kampung kami, jajanan mendoan yang menjadi makanan lokal, tapi ironisnya salah satu bahannya dari tepung terigu yang impor,” jelas Riza dikutip dari YouTube Kementerian Pertanian.

Mendampingi Petani

Setelah berhasil mengembangkan Mocaf, Riza dan kawan-kawannya mendirikan sebuah gerakan bernama Rumah Mocaf. Melalui gerakan itu, mereka terjun ke desa-desa untuk mendampingi para petani membuat singkong menjadi tepung mocaf. Tapi bukannya menyelesaikan permasalahan, masalah baru muncul di mana mereka tidak bisa menjual produk yang mereka hasilkan.

“Pada awalnya kita pure 100 persen pemberdayaan dan tidak berpikir sama sekali untuk bisnis. Tapi karena masalah itu, akhirnya kami putuskan untuk membuat rumah besar bernama Rumah Mocaf Indonesia,” kata Riza.

Tiga Klaster

Melalui Rumah Mocaf Indonesia, pemberdayaan untuk memaksimalkan singkong terdiri dari tiga klaster. Klaster pertama adalah para petani singkong, klaster kedua adalah ibu-ibu pengrajin mocaf, dan anak-anak muda.

Di klaster pertama, para petani singkong yang sering mengalami kerugian atas hasil panen singkongnya diberdayakan bagaimana bertani singkong dengan benar seperti mengolah pupuknya, mengelola lahan, dan bagaimana menghasilkan singkong yang berkualitas.

Sementara itu di klaster yang kedua, ibu-ibu yang dulunya tidak memiliki pekerjaan diberdayakan untuk mengolah singkong menjadi tepung mocaf, seperti mengupas kulit, melakukan proses fermentasi dan sebagainya.

Di klaster ketiga, para anak muda setempat diberdayakan untuk melakukan pengemasan terhadap produk, serta menjalin kerja sama dengan instansi-instansi terkait agar produk mocaf yang dihasilkan bisa diterima oleh masyarakat luas

Demokratisasi Ekonomi

Riza mengungkapkan ketiga klaster itu duduk bersama dalam menentukan harga pokok produksi (HPP) singkong yang mereka hasilkan. Harga singkong mereka pun terangkat, dari yang awalnya Rp200 per/kg menjadi minimal Rp1.500 per/kg.

Dengan menentukan harga bersama, antara satu sama lain tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak ada yang merasa dirugikan. Bahkan petani singkong tahu harga produk mocaf yang akan dijual ke pasaran. Riza mengistilahkan hal ini dengan nama “demokratisasi ekonomi”.

Dengan adanya “demokratisasi ekonomi”, literasi finansial petani terbangun dan mereka tak lagi mudah dipermainkan oleh para tengkulak, serta ibu-ibu petani yang tadinya menganggur jadi memiliki pekerjaan. Selain itu para pemuda yang tadinya menganggap sebelah mata pekerjaan bertani singkong bisa terbangun kesadarannya untuk terjun ke dunia pertanian.

“Bahkan singkong saja yang dianggap makanannya orang-orang pinggiran, ternyata ketika diolah oleh anak-anak muda bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai jual tinggi,” kata Riza.

Kerabat Rumah Mocaf 3

See all author post

Leave a Comment

Your email address will not be published.

0
X