Bersama Rumah Mocaf, Wakhyu Angkat Derajat Singkong

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Singkong selama ini menjadi komoditas yang kerap terpinggirkan. Untuk mengangkat derajat singkong, pemerintah mendorong pelaku usaha membuat produk olahan. Itulah yang dilakukan Wakhyu Budi Utami dari Rumah Mocaf Indonesia.

Berawal dari keluhan petani, Wakhyu berupaya mencari cara  mengolah singkong agar termanfaatkan dengan baik. Setelah berdiskusi dan meriset tentang tata cara pengolahan singkong, ia akhirnya mantap untuk mengolah tanaman itu menjadi Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour).

Ia pun bertekad mengangkat martabat singkong menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. “Saya sempat meriset sederhana dan berdiskusi dengan rekan-rekan saya yang kuliah teknologi pangan dulu untuk mengolah potensi singkong di daerah saya. Semuanya menyarankan agar mengolah tanaman itu menjadi Mocaf sebagai alternatif pangan,” kata Wakhyu.

Usahanya menjadikan singkong sebagai produk dengan nilai ekonomi tinggi bisa dibilang berhasil. Bersama sang suami, Wakhyu Budi Utami, pun mulai mendirikan perusahaan yang ia kelola dengan asas ‘sociopreneurship’ bernama Rumah Mocaf pada 2018. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan petani singkong.

Melalui konsep yang Wakhyu terapkan dalam bisnisnya, seluruh warga yang terlibat di Rumah Mocaf pun saling menguatkan untuk terus mengembangkan tepung mocaf ini. Bahkan, kegiatan Rumah Mocaf kini mulai mendapat dukungan dari beberapa lembaga sosial yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran Rumah Mocaf mampu memberi manfaat langsung pada masyarakat dalam usaha mengembangkan tepung mocaf ini.Rumah Mocaf juga memberi pelatihan pembuatan tepung pada petani. Melalui Rumah Mocaf, Wakhyu mempunyai harapan besar menjadikan
tepung mocaf sebagai tepung khas Indonesia, agar Indonesia bisa berdaulat pangan.

Zulkifli, Direktur PT Permata Agro Utama mengatakan, pengembangan tepung singkong bertujuan untuk membangun atau menaikan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar lokasi pengembangan singkong. Sebab yang akan dibangun bukan hanya kebun singkong, tapi juga turunannya sampai dengan industrinya. “Jangan dianggap remeh tanaman singkong ini. 25 tahun yang akan datang diharapkan menjadi suatu produk strategis,” jelasnya.

Singkong memiliki banyak kelebihan. Selain dapat untuk mengurangi ketergantungan Indonesia dalam impor gandum, juga bisa sebagai bahan baku farmasi. Saat ini Indonesia kurang lebih sekitar 96 persen mengimpor bahan baku farmasi. “Harapan masyakarat adanya pola kerjasama kemitraan dengan memberikan pembinaan kepada masyarakat sehingga dapat menjadikan lahan kurang produktif menjadi produktif,” katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi menyampaikan, pemanfaatan singkong sebagai salah satu konsep Menteri SYL tentang 5 cara bertindak, salah satunya adalah diversifikasi pangan lokal dengan memanfaatkan singkong. “Tidak hanya diversifikasi produksi tapi juga konsumsi,” ujarnya.

Kementan selama ini sudah mempetakan sentra singkong sampai dengan hilirnya. Tahun 2019 ada luas panen sekitar 628 ribu ha  dengan produksi 16,35 juta ton. “Semua bagian tumbuhan ini bisa diolah untuk makanan dan saya usul materi webinar berikutnya langsung di lokasi pengolahan mocaf sehingga peserta bisa melihat sendiri processingnya,” katanya.

Kinerja produksi singkong terus mengalami peningkatan mulai tahun 2018 terlihat dengan peningkatan sebesar 1,51 persen. Adapun lima provinsi dengan produksi singkong paling tinggi pada tahun 2018 adalah Lampung , Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Produktivitas singkong secara nasional fluktuatif, rata-rata dalam 5 tahun terakhir sebesar 23,99 ton/ha.

Kementerian Pertanian meminta masyarakat mempunyai inovasi dalam pengolahan lahan singkong yang baik agar mendapatkan hasil produksi tinggi.  Suwandi berharap petani mempunyai inovasi spesifik lokal dalam mengolah lahan secara baik, sehingga menghasilkan hasil produksi yang tinggi tinggi.

sumber : tabloidsinartani.com

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *