Banjarnegara—Curahan hati petani singkong membuat hati Riza Azyumarridha Azra tergugah membangun rumah mocaf (modified cassava flour). Ia kemudian mendirikan perusahaan yang berlandaskan asas sociopreneurship di Kutabanjarnegara, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Awal bertemunya Riza dengan petani singkong berawal saat dirinya menjadi relawan di Dusun Jemblung, Kabupaten Banjarnegara yang tertimpa musibah longsor tahun 2014. Di dusun yang hilang tertimbun longsor, sarjana tehnik elektro ini bersama sejumlah temannya mendirikan Sekolah Inspirasi Pedalaman, untuk membantu anak – anak yang putus sekolah akibat bencana tanah longsor.
Dari sanalah, Riza bertemu petani petani singkong. Ibarat pepatah ‘Sudah Jatuh Tertimpa Tangga’, petani yang sudah tertimpa longsor, ternyata hasil panen singkongnya dihargai cukup rendah.
Sedih dan miris. Itulah yang dirasakan Riza mendengar singkong petani hanya dihargai Rp 200/kg. Jerih payah petani ibarat tak mendapat penghargaan yang layak. Bahkan harga yang diperoleh petani jauh dari kata sepadan dengan upaya yang dilakukan petani dan biaya produksi, bahkan untuk upah mencabut singkong atau panen.
“Karena harga jual yang jauh lebih murah bahkan dibanding upah mencabut singkong, petani memilih membiarkan singkong yang subur dan banyak di kebun hingga membusuk,” kata Riza.
Menyikapi apa yang menjadi persoalan petani, pemuda 28 tahun ini tergerak untuk berbuat sesuatu yang bisa mengubah keadaan masyarakat. Riza kemudian mencari dan mengolah data, berdiskusi dan banyak menggali informasi dari berbagai kalangan ahli singkong sampai dosen teknologi pangan.
Dari hasil mencari berbagai informasi, akhirnya Riza mendapat masukan pengolahan singkong menjadi tepung Mocaf (Modified Cassava Flour). Ia pun yakin, tepung mocaf, merupakan bahan pangan masa depan. Apalagi merujuk pada data yang diperolehnya, Indonesia berada diurutan kedua setelah Brazil sebagai penghasil singkong terbesar di dunia.
Kabupaten Banjarnegara tanah kelahirannya merupakan penghasil singkong terbesar kedua di Jawa Tengah. “Dari data yang saya peroleh, Banjarnegara adalah penghasil singkong terbesar kedua se-Jawa Tengah. Singkong juga tumbuh baik dari Sabang sampai Merauke, membuat Indonesia ada diurutan ke dua penghasil singkong dunia setelah Brazil,” ungkapnya.
Iapun mulai belajar membuat tepung mocaf dari nol hingga berhasil. Setelah itu Riza mulai mengedukasi sejumlah petani cara pembuatan tepung mocaf hingga dapat secara mandiri memproduksi hingga memasarkan mocaf. Sayangnya harapan Riza tak semudah membalikkan telapak tangan. Petani tidak mudah dalam memasarkan mocaf dan berakibat produksinya tertimbun.
Membuat Klaster
Ia berupaya mencari solusi masalah yang dihadapi hingga muncul sebuah ide membangun Rumah Mocaf. Untuk upaya besar ini, Riza menerapkan konsep dengan membagi deskripsi pekerjaan dengan konsep kluster. Kluster pertama, petani sebagai produsen bahan baku. Pendampingan dan edukasi yang diberikan untuk petani adalah seputar produktivitas, literasi finance, integrated farming untuk menentukan HPP singkong.
Selama ini petani hanya menanam, tanpa membuat analisa usaha, analisa usaha lahan dan margin. Integrated farming dengan ternak kambing dan sapi, dengan memanfaatkan kulit singkong diolah menjadi pakan dan kotoran ternak untuk pupuk, lahan menjadi lebih produktif dengan produksi tiga kali lipat dan menghasilkan singkong organik, yang terpercaya sehingga memiliki nilai jual yang tinggi, “ tuturnya.
Kluster kedua memberdayakan wanita, ibu rumah tangga mengolah singkong menjadi chips mocaf, sehingga memberikan penghasilan baru bagi masyarakat. Sementara Kluster ketiga yaitu memberdayakan anak muda yang bertugas melakukan quality control, branding, packaging, edukasi dan pendampingan kepada petani serta pengrajin. Karena target market Rumah Mocaf, kualitas menjadi yang utama.
Tugas lain cluster ke tiga ini adalah membuat inovasi produk turunan, seperti mie Mocaf, kue pie Mocaf, dan produk lainnya. “Kami memiliki resto Rumah Mocaf tempat anak muda nongkrong. Menunya kekinian seperti fried chiken, mie ayam dan semua terbuat dari mocaf, ini sebagai bentuk edukasi kami ke mereka,” ungkapnya.
Bentuk edukasi lain lanjut Riza adalah memecahkan rekor versi musium rekor dunia Indonesia (MURI) dengan pembuatan sajian mi ayam terbanyak berbahan Mocaf. Riza berkolaborasi dengan paguyuban pedagang mie ayam dan ribuan porsi mi ayam dinikmati seluruh masyarakat secara gratis di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas.
Bidik Pasar Ekspor
Untuk meningkatkan pemasaran, Riza juga melakukan penetrasi pasar mocaf dengan mengikuti pameran ke berbagai negara dan mendapat sambutan positif. Hal ini karena produknya gluten free dan kebanyakan dari mereka menomorsatukan kesehatan.
“Animo orang–orang Eropa, Amerika, Rusia, Malaysia, Singapur sangat tinggi karena mocaf gluten free dan baik bagi kesehatan,” ujarnya. Setelah melakukan ekspor ke AS kini Rumah Mocaf bersiap melakukan ekspor ke Eropa, Malaysia dan Singapura.
Agar mocaf semakin dikenal dan semakin akrab sebagai bahan baku pembuat aneka makanan , Riza berharap Pemda mengeluarkan Perda yang mewajibkan semua pihak di Banjarnegara menyajikan makanan olahan berbahan dasar mocaf dalam setiap kegiatan rapat, pesta dan lain – lain. Upaya ini adalah untuk mengangkat martabat singkong untuk kedaulatan pangan.
Seiring dengan makin tingginya permintaan, bahan baku yang dibutuhkan juga akan semakin meningkat. Bersama Dinas Pangan setempat Riza merancang pemetaan untuk menetapkan wilayah dengan kualitas singkong terbaik. Selain itu juga menetapkan zonasi khusus untuk menanam singkong. “Saya yakin dengan adanya jaminan harga dan pasar, petani akan bergairah menanam singkong,” katanya.
Dalam mengelola Rumah Mocaf, Riza bertekad mempertahankan konsep sociopreneur yang sudah menjadi ruh bisnisnya. Meski usahanya sudah masuk kategori industrialisasi, namun Riza akan tetap dengan konsep socioprenuer yang disebutnya sebagai demokratisasi ekonomi yakni adanya keterbukaan, keadilan dan tidak ada yang merasa dirugikan.
Sociopreneur, adalah usaha atau bisnis yang tidak hanya mengambil keuntungan semata, ada unsur sosial di dalamnya. Usaha yang tidak bertujuan untuk memperkaya diri sendiri ini berkontribusi dalam kesejahteraan banyak orang. “Semua masyarakat yang terlibat saling menguatkan untuk terus mengembangkan tepung mocaf,” ujarnya.
Kementerian Pertanian sata ini juga terus mendorong gerakan Diversifikasi Pangan. Bahkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendengungkan slogan indah dan bahagia dengan pangan lokal. Gerakan ini sebagai upaya untuk mendorong ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman.
Menurut SYL, gerakan diversifikasi pangan ini mewakili harapan dan kebutuhan dari seluruh rakyat Indonesia agar ketahanan pangan tetap kokoh, yang memperkuat hadirnya negara yang sejahtera.
Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, pertanian yang bagus itu bisa dilaksanakan petani milenial yang berjiwa entrepreneurship yang tinggi. Dengan demikian memberikan kesinambungan atau sustainability dari usaha pertanian itu.
“Dengan situasi pandemi yang masih berlangsung ini, kita harus terus menggenjot produksi pangan lokal. Apalagi Indonesia kaya akan pangan lokal seperti sagu, singkong, jagung, ubi, dan lainnya,” tambah Dedi.
sumber : tabloidsinartani.com








Leave a Reply