Pada tahun 1875, konsumsi singkong di wilayah Jawa masih rendah. Hingga pada permulaan abad ke-20, konsumsi singkong meningkat pesat. Hal ini menyebabkan pembudidayaan singkong pun meluas seiring dengan pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa yang semakin pesat. Hingga saat ini, singkong menjadi salah satu pilihan bahan pangan utama, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Gaplek sebagai Makanan Pokok

Di Indonesia, singkong merupakan makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung. Menurut Badan Pusat Statistik, saat ini kebutuhan singkong di Indonesia cukup besar yaitu lebih dari sepuluh juta ton per tahun. Di daerah pegunungan, singkong banyak diolah menjadi gaplek (singkong kering) sebagai makanan pokok karena umur simpannya yang lebih lama. Selain itu, karena letak wilayah yang jauh dari pusat kota, kondisi ladang yang kering, dan adanya tradisi turun-temurun yang menjadikan gaplek sebagai pangan pokok. 

Seperti di Desa Joho, Tulungagung yang menggunakan singkong sebagai bahan baku utama dalam pembuatan gaplek. Letak geografis dan posisi Desa Joho yang jauh dari pusat kota Tulungagung menyebabkan akses masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan sangat terbatas. Selain itu, kondisi lahan di Desa Joho yang sebagian besar berupa ladang kering sehingga kurang subur jika ditanami padi. Hasil pertanian singkong yang melimpah mendorong masyarakat untuk melakukan pengawetan melalui pembuatan gaplek singkong. Selain itu, faktor budaya menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat Desa Joho tetap mempertahankan eksistensi gaplek. 

Rasi, Beras Singkong dari Kampung Cireundeu

Selain di Desa Joho, di Kampung Cireundeu yang terletak di Kota Cimahi, Jawa Barat, menjadikan singkong sebagai makanan pokok sehari-hari. Masyarakat Kampung Cireundeu mengolah singkong menjadi beras singkong atau yang disebut dengan rasi. Rasi biasanya dikonsumsi seperti nasi putih biasa bersama dengan lauk pauk dan sayuran. Masyarakat di Kampung Cireundeu menjadikan singkong sebagai makanan pokok mereka karena faktor budaya yang turun temurun. Konon, dahulu Nenek Moyang masyarakat di Kampung Cireundeu menjadikan singkong sebagai makanan pokok sehari-hari. Selain itu, adanya kebun singkong dengan luas lebih dari 20 hektar, masyarakat Cireundeu mengolah hasil-hasil singkong menjadi makanan sehari-hari mereka. Sehingga Kampung Cireundeu pun mendapat julukan sebagai Kampung Singkong. 

Oyek sebagai Saksi Bisu Perjuangan Indonesia

Singkong memiliki makna sejarah bagi masyarakat Indonesia. Umbi-umbian ini menjadi makanan pokok saat melawan penjajah. Salah satunya Oyek, yaitu kuliner tradisional tanah Jawa yang berbahan dasar singkong. Oyek biasanya disajikan di atas pincuk daun pisang dengan taburan kelapa parut yang telah diolah dengan bumbu rempah atau kadang hanya cukup ditambahkan garam. Oyek juga ikut menjadi saksi bisu perjuangan Jenderal Besar Soedirman keluar masuk hutan dalam menjalankan taktik perang gerilya menghadapi agresi militer Belanda di era 1948-1949. Berbekal nasi berbahan oyek itulah, Jenderal Soedirman dan pasukan mampu bertahan selama beberapa waktu di dalam hutan rotan.

Di tengah makna sejarah itu, kini terdapat banyak berbagai macam olahan makanan dari singkong. Selain itu, singkong juga mengandung karbohidrat yang baik untuk tubuh. Sehingga tidak heran makanan berbasis singkong mengakar dalam olahan di nusantara. 

Rumah Mocaf Ayuni

See all author post

Leave a Comment

Your email address will not be published.

0
X